Sinergi dalam Aksi di IIGCE 2025

Jun 18, 2026

Didukung oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Asosiasi Panas Bumi Indonesia (INAGA) sukses menyelenggarakan The 11th Indonesia International Geothermal Conference and Exhibition (IIGCE) 2025 pada 17–19 September 2025 di Jakarta. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan tersebut, Indonesia–Aotearoa New Zealand Geothermal Energy Programme (PINZ), bekerja sama dengan New Zealand Trade and Enterprise dan New Zealand Geothermal Association, turut mendukung penyelenggaraan IIGCE 2025 Pre-Conference Workshop yang berlangsung pada 15–16 September 2025.

Mengangkat tema “Optimising Resource and Sustainability While Maximizing Power Output”, lokakarya selama dua hari ini menghadirkan sesi materi selama satu hari penuh dari Professor Sadiq J. Zarrouk dari Geothermal Institute, University of Auckland, serta sesi materi di hari kedua dari pakar panas bumi dari industri Selandia Baru, yaitu MB Century, Jacobs, Seequent, MTL, Earth Science, dan CaSil Technologies.

Sosok Professor Zarrouk sendiri sudah tidak asing bagi komunitas panas bumi Indonesia. Melalui kiprahnya di Geothermal Institute, ia telah membimbing banyak praktisi yang kini aktif berkontribusi dalam pengembangan panas bumi di Indonesia.

Foto kiri: Prof. Sadiq J. Zarrouk, Associate Professor in Geothermal Engineering (Geothermal Institute) dari University of Auckland, memberikan sesi materi satu hari penuh dalam IIGCE 2025 Pre-conference Workshop. Foto kanan: New Zealand Pavilion di 11th IIGCE 2025 (Foto: PINZ).

(Kiri): Profesor Sadiq J. Zarrouk, Associate Professor di bidang Teknik Panas Bumi (Institut Panas Bumi) Universitas Auckland, menyampaikan ceramah dalam Lokakarya Pra-Konferensi IIGCE 2025 kepada 50 peserta yang terdiri dari para pelaku industri panas bumi Indonesia dan mahasiswa. (Kanan): Paviliun Selandia Baru di IIGCE 2025 ke-11 (Foto: PINZ).

Secara keseluruhan, lokakarya ini menghadirkan materi tentang berbagai topik strategis terkait reservoir, pengelolaan sumber daya, pembangkit listrik, berbagai inovasi teknologi, serta bagaimana praktik-praktik baik terkait topik tersebut yang pernah dilakukan Selandia Baru dan negara-negara lainnya dapat diadaptasi untuk mendorong percepatan pengembangan energi panas bumi di Indonesia. Dalam sesinya, Professor Zarrouk menyampaikan materi mengenai reservoir engineering, fasilitas permukaan dan pembangkit listrik, serta mekanisme scaling dan korosi beserta upaya pencegahannya. Lokakarya ini sendiri diikuti oleh sekitar 50 peserta dari instansi pemerintah, industri, dan mahasiswa perguruan tinggi.

Tidak hanya menyampaikan materi, Profesor Zarrouk juga mendorong partisipasi aktif melalui diskusi dan simulasi kelompok yang dirancang untuk menjawab tantangan yang ditemukan di lapangan, termasuk di Indonesia. Para peserta juga bekerja dalam kelompok-kelompok kecil dan kemudian mempresentasikan ide mereka, menjadikan suasana pembelajaran berlangsung dinamis dan kolaboratif.

Tidak hanya melalui workshop, PINZ juga berpartisipasi dalam pameran IIGCE 2025 selama dua hari di Paviliun Selandia Baru. Acara ini sendiri menjadi kesempatan berharga bagi PINZ untuk dapat berinteraksi langsung dengan para pemangku kepentingan industri dari berbagai negara, bercerita tentang program PINZ, serta menjajaki peluang kolaborasi untuk pengembangan panas bumi yang berkelanjutan di Indonesia.

Artikel Terkait

SDM Andal untuk Pemanfaatan Potensi Panas Bumi yang Optimal

SDM Andal untuk Pemanfaatan Potensi Panas Bumi yang Optimal

Indonesia dikaruniai potensi energi panas bumi yang sangat besar, mencapai 23,74 gigawatt, sehingga menjadi cadangan panas bumi terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Namun, hingga tahun 2025, kapasitas terpasang baru mencapai 11,2 persen dari total potensi tersebut....

baca lainnya