SDM Andal untuk Pemanfaatan Potensi Panas Bumi yang Optimal

Jun 18, 2026

Indonesia dikaruniai potensi energi panas bumi yang sangat besar, mencapai 23,74 gigawatt, sehingga menjadi cadangan panas bumi terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Namun, hingga tahun 2025, kapasitas terpasang baru mencapai 11,2 persen dari total potensi tersebut. Seiring dengan komitmen Indonesia untuk mencapai Emisi Nol Bersih pada tahun 2060, energi panas bumi berperan sebagai salah satu pilar energi utama yang mendukung transisi tersebut. Karakteristik baseload yang stabil dapat menyediakan sumber energi yang andal dan berkelanjutan untuk mewujudkan ekonomi hijau. Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, kapasitas sumber daya manusia (SDM) di sektor ini menjadi komponen yang memiliki peran kritis yang sama pentingnya dengan aspek teknis lainnya. Penting bagi kita untuk mampu mengoptimalkan keterampilan dan pengetahuan SDM yang ada, agar pengembangan panas bumi memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat dan industri, serta ramah lingkungan.

Selama lebih dari 50 tahun, pemerintah Selandia Baru dan Indonesia telah membangun kemitraan dalam pengembangan panas bumi, termasuk dalam peningkatan kapasitas SDM dan pertukaran pengetahuan. Sejak tahun 2024, kolaborasi ini dilanjutkan melalui Kegiatan Program Kerjasama Panas Bumi Indonesia-Aotearoa (PINZ), bersama mitra kerja utama dari Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE), Badan Geologi, dan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), juga dengan melibatkan mitra dari kalangan industri dan akademisi di kedua negara

Melalui PINZ, pengembangan kapasitas teknis dirancang secara menyeluruh, mulai dari perencanaan dan pelaksanaan proyek hingga pemanfaatan energi panas bumi. Program-program tersebut dilaksanakan dengan berbagai metode yang disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari workshop di kelas dengan analisis studi kasus berbasis lapangan hingga diskusi langsung di lokasi.

Sebagai contoh, dalam “Probability of Discovery Workshop”, peserta dari Badan Geologi dipandu oleh pelatih dari Jacobs mengikuti simulasi analisis kelayakan komersial untuk sistem konvensional maupun pemanfaatan langsung (direct use). Dalam workshop ini, para peserta berkesempatan untuk menerapkan konsep perencanaan proyek dalam konteks teknis nyata, dengan analisis yang berlandaskan studi kasus dari wilayah kerja panas bumi di Indonesia. Peserta kemudian melakukan simulasi penerapan hasil analisis sebagai dasar pengambilan keputusan guna meminimalkan risiko finansial dan memastikan keberlanjutan proyek dalam jangka panjang

Kiri: Evaluasi bersama dengan Badan Geologi untuk meningkatkan kegiatan pengeboran di Banda Baru, Maluku Tengah, pada Oktober 2024. Kanan: Probability of Discovery Workshop dengan Badan Geologi pada Oktober 2025 (Foto: Jacobs dan PINZ).

Kiri: Evaluasi bersama dengan Badan Geologi untuk meningkatkan kegiatan pengeboran di Banda Baru, Maluku Tengah, pada Oktober 2024. Kanan: Probability of Discovery Workshop dengan Badan Geologi pada Oktober 2025 (Foto: Jacobs dan PINZ).

Terkait dengan pelaksanaan proyek, program peningkatan kapasitas yang diberikan mencakup berbagai topik, termasuk dalam bentuk kunjungan lapangan dan bantuan teknis on-site terkait pengeboran, survei 3G, serta workshop tinjauan area bersama instruktur dari Jacobs. Selain itu, workshop mengenai Isotope Geothermometry, Ambient Noise Tomography (ANT), dan analisis risiko sosial juga diselenggarakan bersama pelatih dari JRG Energy Consultants. Melalui berbagai dukungan teknis dan workshop ini, para peserta dari Ditjen EBTKE, Badan Geologi dan BPSDM semakin mengasah kemampuan mereka dalam targeting, perencanaan dan pelaksanaan proyek panas bumi secara lebih efisien dan hemat biaya. Lewat pelatihan analisis risiko sosial, para peserta juga melakukan evaluasi demi pengelolaan sumber daya panas bumi yang lebih ramah lingkungan dengan mitigasi risiko yang lebih baik.

Ken Maturgo dari JRG Energy Consultants menyampaikan, “Para peserta workshop Isotope Geothermometry dan ANT memiliki tingkat pemahaman yang berbeda pada setiap topik pelatihan. Hal ini menegaskan pentingnya menyeimbangkan pendekatan presentasi teori dan praktik dalam proses pembelajaran. Di akhir workshop, kita sama-sama meliha perubahan nyata dalam kepercayaan diri, keterlibatan dan kemampuan teknis para peserta. Para trainer juga melihat partisipasi aktif yang konsisten, dengan peserta yang semakin mampu menerapkan konsep secara mandiri serta mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik dan analitis seiring berjalannya workshop. Perubahan paling menonjol terlihat pada kompetensi keterampilan praktik peserta yang semakin meningkat, di mana pada sesi akhir workshop, mereka memiliki kemampuan yang semakin baik dalam menerjemahkan teori ke dalam konteks eksplorasi dan evaluasi panas bumi di lapangan, selaras dengan tujuan peningkatan kapasitas yang ingin dicapai dari workshop ini.”

Kiri: Pelatihan Isotope Geothermometry dengan peserta dari Badan Geologi dan BPSDM pada 6-8 April 2026. Kanan: Pelatihan Ambient Noise Tomography dengan peserta dari Badan Geologi pada 9-10 April 2026 (Photo: JRG Energy Consultants).

Sejalan dengan percepatan pemanfaatan energi panas bumi untuk penggunaan langsung, PINZ, bersama dengan mitra kerja utama, mengadakan dua jenis program pengembangan kapasitas terkait penggunaan langsung. Pertama, dukungan teknis melalui kunjungan ke lokasi direct use di Ciater, Jawa Barat, yang dilanjutkan dengan workshop untuk memperkuat pemahaman atas konsep direct use dengan peserta dari Badan Geologi dan BPSDM. Kedua, PINZ bersama dengan Ditjen EBTKE, BPSDM, dan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) mmeperkuat kapasitas kelembagaan melalui kajian modul dan metode pelatihan direct use, serta serta Training of Trainers (TOT) bekerja sama dengan University of Auckland melalui Geoenergis. Rekomendasi atas modul dan metode pelatihan, serta hasil TOT tersebut, selanjutnya akan digunakan untuk menyempurnakan persiapan pelatihan sertifikasi direct use bagi para pelaku usaha yang bergerak di bidang pemanfaatan langsung panas bumi.

Workshop Pemanfaatan Langsung (Direct Use) diharapkan dapat berkontribusi dalam mewujudkan transfer kapasitas kelembagaan yang berkelanjutan, melalui pengembangan dan pembaruan kurikulum serta modul pelatihan direct use bersama dengan mitra kerja utama, dalam upaya memperkuat kapasitas BPSDM untuk menyelenggarakan pelatihan untuk proses sertifikasi dan perizinan bagi pelaku pemanfaatan langsung panas bumi (Foto: Geoenergis).

Workshop Pemanfaatan Langsung (Direct Use) diharapkan dapat berkontribusi dalam mewujudkan transfer kapasitas kelembagaan yang berkelanjutan, melalui pengembangan dan pembaruan kurikulum serta modul pelatihan direct use bersama dengan mitra kerja utama, dalam upaya memperkuat kapasitas BPSDM untuk menyelenggarakan pelatihan untuk proses sertifikasi dan perizinan bagi pelaku pemanfaatan langsung panas bumi (Foto: Geoenergis).

Rangkaian program peningkatan kapasitas ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis SDM, tetapi juga akan memperkuat kualitas data, analisis, dan kapasitas kelembagaan yang memegang peran krusial dalam pengembangan panas bumi di Indonesia. Berbagai inisiatif ini juga diharapkan dapat menghadirkan wadah pertukaran pengetahuan antara Selandia Baru dan Indonesia untuk mendorong pengembangan panas bumi yang bermanfaat bagi masyarakat, ramah lingkungan dan menarik bagi investasi, seiring dengan percepatan transisi energi Indonesia untuk terciptanya pertumbuhan ekonomi yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Artikel Terkait